Lombok Tengah

Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik
Indonesia (GMPRI) Nusa Tenggara Barat mendatangi Kantor Angkasa Pura I Bandara Lombok. Kedatangan mereka untuk menuntut pertanggungjawaban General Manager (GM) Angkasa Pura terkait dugaan keterlibatan pegawai berinisial M yang disebut-sebut menjadi sebab akibat meninggalnya almarhumah Miranda.

Dalam forum hearing tersebut, GM Angkasa Pura yang hadir langsung lebih memilih menyerahkan kasus itu kepada aparat penegak hukum (APH). Sikap tersebut memicu ketegangan karena dianggap menunjukkan ketidakpedulian pimpinan.

“Kami menunggu hasil kepolisian, karena tidak ingin berspekulasi,” ujar GM AP singkat.

Pernyataan itu disesalkan oleh Sekretaris GMPRI NTB, Muhammad Jaelani atau Jelon. Menurutnya, Angkasa Pura seolah tutup mata terhadap dugaan keterlibatan pegawainya, padahal kasus tersebut telah mencoreng nama baik lembaga dan melukai hati masyarakat Lombok Tengah.

“Sebagai pimpinan, seharusnya ada sikap tegas jika ada bawahan yang melanggar aturan. Jangan seolah dibiarkan,” tegas Jelon.

Suasana hearing pun memanas hingga akhirnya pihak Angkasa Pura meninggalkan ruangan. GMPRI memastikan akan kembali menggelar aksi demonstrasi untuk menuntut ketegasan perusahaan terhadap pegawainya yang diduga terlibat.

Selain itu, GMPRI juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus kematian Miranda, bukan hanya berhenti pada suaminya yang telah ditetapkan sebagai tersangka, melainkan juga menelusuri dugaan keterlibatan M yang usai kejadian justru dipindahkan ke luar daerah.


“Kami minta Polres Lombok Tengah mengusut tuntas dugaan keterlibatan M agar kasus ini terang benderang,” pungkas Jelon.