Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, Pusat Lokasi Pekan Penghijaun ke 24 tahun 1984, diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Umar Wirahadi Kusuma. Kediri 19 Desember 1984. Itulah tulisan yang terdapat dalam tugu tua berwarna hitam, yang ditutupi oleh lumut di puncak Gunung Sasak.


Tak hanya tugu tua yang ada di puncak, melainkan terdapat banyak kursi-kursi dan rumah pohon yang terbuat dari papan. Kayu-kayu yang tersusun itu dibuat oleh masyarakat atas Arah kepala desa, “ Kepale dese piak ,” begitulah kata inak Ilah, warga yang bermukim di dekat Gunung Sasak.


Kehadirannya sebagai tempat bersejarah tak pernah terdengar oleh masyarakat yang berada jauh dari lokasi Gunung Sasak. Bahkan warga yang bermukim di kawasan tersebut, yang hanya berjarak ± 2 km mengaku, tak pernah mengungnjungi tempat istimewa yang kini menjadi salah satu sejarah penting yang ada di Masjid Pulau Seribu.


Gunung Sasak atau biasa disebut Bukit Pendem oleh masyarakat sekitar. Tak diketahui pasti mengapa masyarakat di sana menyebut dengan nama demikian. Tempat bersejarah yang tak banyak diketahui orang itu berada di Dusun Eting, Desa Kuripan Selatan, Kec. kuripan. Kab. Lombok Barat.


Tak sulit untuk menemukan di mana lokasi bersejarah tak tersohor itu berada, karena jalan menuju ke sana telah dijangkau oleh tangan pemerintah. Jika sudah sampai di Kuripan, tepatnya jalan menuju SMKN 1 Kuripan, hanya tinggal mengikuti jalan hitam beraspal untuk bisa sampai ke Bukit Pendem.


Waktu yang diperlukan yakni 60 menit atau satu jam perjalanan dari Mataram, dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam menggunakan kendaraan roda dua. Selama perjalanan mata akan dimanjakan dengan warna hijau alami dari tumbuhan. Sinar sang surya tak begitu terasa membakar bagian tubuh paling luar, karena wujud hitam dari pohon besar seperti; Mahuni, Sengon dan lain-lain yang mengarah ke bahu jalan.


Setelah 50 menit perjalanan, mata akan melompat ke sebuah jembatan, yang di sana terdapat beberapa pipa besar berwarna biru, dengan perpaduan warna coklat alami akibat air hujan dan embun yang membasahi besi dari pipa tersebut.


Beberapa saat kemudian akan terlihat sebuah berugak dengan warna kuning yang dataran tanahnya lebih tinngi dari jalan yang tengah di lintasi. Di ambang perkarangan berugak, terdapat kotak mirip seperti persegi panjang yang terbuat dari air mani, misalnya Lesehan Bukit Pendem. Yang saat ini telah gulung tikar, karena jarangnya pengunjung, “ Sudah tutup, karena tidak tetapnya orang belanja ,” kata Ilah, dalam bahasa Sasak yang telah kami terjemahkan.


Ketika indara penglihatan telah membaca goresan dari air mani itu, berarti perjalanan untuk mendaki Bukit Pendem akan dimulai. Tak perlu mengambil risiko dengan tempat di mana kendaraan akan parkir, karena kuda jepang yang dibawa bisa dititipkan di halaman rumah warga dengan tarif Rp. 5.000,- untuk roda dua.


Tak sulit untuk menentukan arah menuju bukit, karena jalanan berumput yang dilalui telah memiliki garis akibat jejak kaki yang telah dilalui oleh pengunjung dan masyarakat sekitar. Waktu yang diperlukan untuk mendaki kira-kira 25 menit. Jika takut kalah arah, pemuda desa telah siap berkendara untuk sampai ke Bukit Pendem. Dengan upah Rp. 10.000,- untuk satu rombongan.


Setelah tujuh menit perjalanan, netra akan bertemu dengan tempat pembuatan dan pembakaran batu bata, yang dikerjakan oleh beberapa ibu rumah tangga. Selepas melalui tempat tersebut, pendakian yang sesungguhnya telah dimulai. Terlihat sejumlah pohon bambu yang rimbun dengan daun yang masih berwarna hijau tua, meski tengah tumbuh di tanah yang tandus dan berdebu.


Hampir seluruh jalan dipenuhi tumbuhan liar. Tingginya hingga pinggang, berwarna hijau dan sebagian telah mengering. Selepas melewati ilalang dengan warna pucat tersebut. Dari kejauhan terlihat mata air yang mengalir dari dalam bambu. Di areal lahan tempat mata air itu berada, tampak beberapa pohon pisang yang ditanam oleh masyarakat sekitar.


Hanya berjarak beberapa meter dari mata air pertama, raga kembali akan menjumpai sumber air. Perlompatan dengan mata air menandakan bahwa langkah kaki telah sampai di leher Bukit Pendem.


Dari sini mulai terlihat pemandangan menarik. Warna hijau yang hampir merata, perumahan dan bangunan-bangunan, serta kendaraan yang lewat-lalang terlihat kecil seperti sebuah miniatur. Pada ketinggian ini pula, puncak dari Gunung Rinjani terlihat jelas tanpa ada pepohonan yang menutupi.