Kaki gunung pengsong, 5 Juli 2025
Selamat datang di kerajaan Don Balque, tanah demokrasi rasa geng preman pasar. Di sini, manajemen daerah lebih mirip drama mafia dibanding pemerintahan yang waras.
Bayangkan saja adegan di Rapat Umum Pemegang Saham Bank Syariah kemarin. Para pemegang saham sedang sibuk mencatat laba rugi dengan wajah setengah bosan, ketika pintu mendadak ditendang terbuka. Masuklah seorang pekatik Don Balque berinisial O, lengkap dengan ajudan J dan seorang pejabat pemprov yang seolah lupa kalau ini bukan arena sabung ayam.
“Direksi lama silakan keluar, karena mau diganti semua,” bentaknya, seolah-olah bank daerah ini warisan nenek moyangnya. Yang hadir pun ternganga seumur-umur, baru kali itu RUPS berubah jadi panggung orasi preman.
Tapi jangan kaget, karena adegan ini bukan satu-satunya. Beberapa bulan sebelumnya, pekatik lain, KJ, dengan santainya mengumpulkan kepala dinas dan PPK. Bukannya rapat perencanaan pembangunan, yang dibahas malah daftar utang pilkada.
Semua proyek harus dikerjakan demi satu tujuan membayar cicilan politik ke Grup Abah Fartuner. Supaya tahun depan, Don Balque bisa tidur nyenyak tanpa ditekan penagih utang.
Di istana, Don Balque duduk dengan tatapan elang. Setiap rupiah APBD dikawal ketat. Satu paket proyek pun tak boleh lolos. Negara hukum? Pemerintahan modern? Ah, itu Cuma slogan di baliho kampanye.
Di kerjaan Don Balque, manajemen preman adalah norma baru. Kalau mau aman, ikut barisan. Kalau mau jabatan selamat, patuh pada titah patron. Kalau mau proyek cair, jangan banyak tanya.
Sementara rakyat Cuma bisa menghela napas. Mereka membayar pajak, menyumbang suara, lalu menonton sandiwara kekuasaan yang makin absurd.
Selamat datang di Republik Preman Lokal. Tempat di mana tata kelola pemerintahan diurus dengan ancaman, utang politik dilunasi dengan dana publik, dan harga diri institusi dijual semurah karcis parkir.

0 Komentar