Kaki Rinjani, 4/7/2025

Ada yang jauh lebih lihai dari sekadar pesulap jalanan. Ia tak butuh topi atau tongkat sulap, cukup secarik kertas bertuliskan nama-nama “penyumbang” pilkada, lalu *abrakadabra* puluhan miliar Dana Alokasi Khusus (DAK) Dikbud NTB 2025 berubah wujud jadi upeti politik.

Konon ceritanya, alat-alat praktek untuk SMK hanya dalih formalitas belaka. Anak-anak sekolah boleh bermimpi ingin belajar keterampilan, tetapi di meja rapat yang lebih sunyi, mimpi itu ditukar jadi paket proyek bagi para bohir yang katanya berjasa memenangkan singgasana. Semua berjalan rapi di balik tirai birokrasi.

Sang Don Bosque, sosok yang punya dua wajah satu untuk rakyat, satu lagi untuk kroni diam-diam mengatur semua. Dari kejauhan ia tampak khusyuk mencitrakan diri seakan tak pernah terlibat lumpur kepentingan. Tetapi di dalam istana kecilnya, setiap pergerakan operator proyek ia awasi dengan mata elang. Siapa yang akan dapat paket? Siapa yang wajib diam? Semua sudah ada di naskah drama yang tak pernah dibacakan ke publik.

Operator paket pun tak lebih dari bidak yang disuruh memerintah PPK di dinas, memastikan semua nama di kertas sakti itu kebagian jatah. Dan jika ada pihak yang terlalu penasaran, sang operator diberi mandat khusus intervensi langsung, bungkam kebocoran, amankan jalur. Demi apa? Demi menjaga tradisi lama anggaran publik sebagai bancakan politik.

Lucu, rasanya. Ketika sekolah-sekolah di pelosok masih kekurangan sarana layak, ketika murid-murid SMK terpaksa praktek dengan alat setengah rusak, para elite malah sibuk membagi jatah proyek seolah negara ini milik keluarga sendiri.

Apa kabar integritas? Entahlah. Mungkin sudah lama disimpan di lemari arsip bersama idealisme yang mulai usang.

Satu hal yang pasti, skandal DAK Dikbud NTB 2025 bukan Cuma soal uang. Ini soal moral yang bangkrut, soal masa depan anak-anak NTB yang dijadikan tumbal transaksi politik. Dan di atas panggung penuh kemunafikan itu, Don Bosque tetap berdiri tegak, dengan wajah penuh senyum, pura-pura tak tahu bahwa dialah sutradara sesungguhnya.